p. 3
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 karya bastian tito maut bernyanyi di pajajaran satu di bawah terik panasnya matahari di siang bolong itu maka bertiuplah angin kencang dan gersang debu pasir di pedataran beterbangan ke udara memekat tebal menutup pemandangan beberapa saat lamanya suara siulan aneh yang melengking-lengking membawakan lagu tak menentu terdengar di lereng bukit di ujung pedataran siulan aneh ini seperti mau menerpa dan menumbangkan hembusan angin gersang yang datang dari pedataran tiba-tiba sekali suara siulan aneh ini terhenti sebagai gantinya mengumandangkan suara tertawa mengekeh di seantero bukit pemuda berpakaian putih yang ada di puncak bukit saat itu memandang ke samping sebelum jelas telinganya menangkap suara tertawa tadi sejenis cairan harum telah melesat ke arahnya kalau saja dia tidak cepat-cepat melompat ke belakang pastilah sebagian mukanya kena disambar cairan itu cairan yang tak mengenai si pemuda baju putih rambut gondrong ini menghatam pohon besar bukan olah-olah hebatnya semburan cairan aneh tadi itu si pemuda sendiri kejutnya bukan kepalang baru saja setengah harian berjalan tahutahu sudah ada orang lain yang inginkan nyawanya dia memandang ke arah datangnya semburan cairan aneh tadi baru saja dia palingkan kepala mendadak dari atas menderulah ratusan tetes cairan tadi laksana air hujan yang deras ditiup badai pemuda itu berseru nyaring dan hantamkan tangan kanannya ke atas ratusan tetes cairan itu muncrat kembali ke atas dan ratusan lagi menyibak ke samping daun-daun pohon tembus berlubang-lubang sedang batang-batang kayu seperti kena tusukan paku gelak mengekeh menggema lagi di seantero puncak bukit anehnya si pemuda belum juga dapat mencari dengan matanya manusia yang telah mengeluarkan suara tertawa itu padahal jelas dekat sekali kedengarannya http ebooksters.blogspot.com page 1
[close]
p. 4
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran hatinya penasaran sekali sambil garuk kepala dia memandang berkeliling kedua matanya kemudian tertuju lekat-lekat pada sebatang pohon raksasa yang tinggi menjulang ke langit mungkin lebih dari tiga puluh meter tingginya suara tertawa itu datang dari atas pohon tapi orangnya masih tak kelihatan mungkin tertutup oleh daun-daun pohon yang lebar-lebar dan lebat manusia di atas pohon bentak pemuda itu kalau berani buka urusan berani unjuk diri sehabis berkata begitu pemuda itu pukulkan telapak tangan kanannya ke atas serangkum angin yang dahsyatnya laksana topan melanda pohon raksasa itu ranting dan cabang berpatahan daun-daun berguguran hampir sekejapan mata saja maka pohon raksasa yang menjulang ke langit itu sudah menjadi ranggas gundul dan di puncak batang pohon yang masih utuh kelihatanlah duduk seorang laki-laki tua berselempang kain putih karena tingginya pohon itu tampangnya tak kentara betul tapi jenggotnya yang panjang sampai ke dada dilihat jelas berkibar-kibar ditiup angin gersang dari pedataran pada pangkuannya ada sebuah bumbung bambu yang panjangnya sekira satu meter bumbung bambu seperti itu masih ada satu iagi tergantung di belakang punggungnya dan kedua bumbung bambu itu berisi tuak murni yang harum sekali dan lezat rasanya tuak itulah tadi yang telah disemburkannya kepada pemuda yang di bawah pohon pukulan tangan kosong si pemuda yang telah meluruhkan cabang-cabang dan daun-daun pohon mau tak mau akan membuat mental si orang tua berjanggut putih diatap pohon sekurangkurangnya akan membuat terluka tubuhnya di sebelah dalam tapi anehnya saat itu si janggut putih tetap saja duduk enak-enak berpangku kaki di puncak pohon yang gundul itu bahkan sambil meneguk tuaknya dan tertawa-tawa seakan-akan tak ada terjadi apa-apa bukan main geramnya pemuda itu tapi untuk bertindak gegabah dia tidak mau manusia tua di puncak pohon tinggi berjanggut putih dengan dua buah bumbung tuak itu pernah diceritakan oleh gurunya waktu dia masih di puncak gunung gede dia adalah seorang pendekar sakti dari empat puluh tahun yang lalu jarang memperlihatkan diri dan dia adalah golongan persilatan putih artinya yang mempergunakan ilmu silat dan kesaktian untuk maksud-maksud baik tapi mengapa tadi dia telah mempergunakan tuaknya untuk menyerang adalah tidak dimengerti si pemuda rambut gondrong orang tua seru si pemuda bibirnya bergetar tanda ucapannya disertai tenaga dalam agar dapat sampai ke puncak pohon raksasa yang tingginya lebih dari tiga puluh meter kalau aku tidak salah lihat bukankah hari ini aku berhadapan dengan seorang tokoh terkenal di dunia persilatan yang digelari dewa tuak http ebooksters.blogspot.com page 2
[close]
p. 5
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran orang tua di puncak pohon elus jenggotnya sebentar teguk tuak lalu tertawa lagi macam tadi orang muda matamu sangat tajam dapat mengenali aku yang sudah delapan puluh tahun ini tapi apakah kau mau terima undanganku untuk datang ke puncak pohon ini dan meneguk tuak harum dari kahyangan bersamaku begitulah dewa tuak menamakan tuaknya dari kahyangan memang soal rasa dan harumnya tuak itu sukar dicari tandingan si pemuda tersenyum orang tua kau baik sekali hari ini aku ada keperluan mendesak mungkin di lain kali aku bisa terima undanganmu terima kasih atas kebaikanmu dan sungguh senang rasanya dapat kenal dengan seorang tokoh persilatan yang selama ini namanya dikenal di delapan penjuru angini ah kau keliwat memuji orang muda jawab dewa tuak pula aku sudah lihat kau sejak dari ujung pedataran gersang sana kutunggu kau sampai kesini tapi sampai di hadapanku kau menolak undanganku mungkin tuakku ini kurang baik tidak harum si pemuda berpikir sebentar agaknya tak menjadi halangan kalau dia menerima undangan dewa tuak dan bicara-bicara dengan orang tua itu di puncak pohon mulutnya dikatup rapat-rapat kedua tangan mengembang ke samping dan kedua kaki menghenjot bumi maka laksana seekor elang melayanglah pemuda itu ke puncak pohon puncak pohon itu selebar meja bundar luasnya meski tidak beranting dan bercabang serta tak berdaun lagi namun ditempat setinggi itu sejuk juga rasanya aku terima undanganmu dewa tuak kata si pemuda seraya duduk disatu bagian yang menonjol bekas patahan cabang pohon he he he dewa tuak girang sekali memang tak ada ruginya menerima undanganku orang muda tuak enak tempat duduk bagus seantero daerah sini bisa kau tihat dengan jelas memang ketika duduk di atas pohon itu si pemuda dapat melihat pemandangan indah sejauh mata memandang dewa tuak segera ambil salah satu bumbung tuaknya dan memberikannya pada tamunya kau biasa minum tuak anak muda si pemuda itu menjawab pernah juga padahal seumur hidupnya baru hari itu dia melihat dan membual serta akan merasakan minuman yang bernama tuak itu disambutinya bumbung bambu itu dari tangan dewa tuak sementara dewa tuak mengambil bumbung yang satu lagi dia masih juga berpura-pura menikmati pemandangan sekelilingnya http ebooksters.blogspot.com page 3
[close]
p. 6
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran ayo orang muda silahkan minum dewa tuak memperbasakan kau harus tahu tuakku tuak murni kalau belum biasa nanti kau bisa mabuk atau pusing dan menggelinding dari pohon ini si pemuda tertawa ditempelkannya bibimya ke tepi bumbung bambu sedikit saja tuak itu menjalari tenggorokannya maka seluruh badannya menjadi hangat pemandangannya menjadi jernih sedang pikirannya terasa tenang bagaimana rasanya tuakmu betul-betul bagus sekali orang tua tak salah kalau kau namakan tuak dari kahyangan dewa tuak tertawa senang kau ini datang dari mana anak muda barusan dari jatiwalu jatiwalu kampung jelek banyak rampok kata dewa tuak pula dan rampoknya orang situ-situ juga si pemuda berpikir kalau dewa tuak tahu apa yang terjadi di jatiwalu kenapa dia tidak turun tangan dewa tuak agaknya maklum apa yang terpikir oleh si pemuda lantas dia berkata aku malas dan bosan dengan urusan-urusan tengik macam begituan karenanya kubiarkan saja apa yang terjadi di kampung itu orang kampung sana agaknya tidak mau perduli dengan nasib mereka lebih senang ditindas nanti keadaan di sana akan baik sendirinya dewa tuak meneguk tuaknya kembali setelah diam beberapa lamanya bertanyalah si pemuda dewa tuak apakah pohon besar ini tempat kediamanmu kenapa kau tanya begitu karena kalau betul berarti aku yang muda telah turun tangan semena-mena membuat pohon ini jadi gundul begini dan aku harus haturkan maaf kepadamu dewa tuak tertawa mengekeh sampai tuaknya berlelehan di tepi mulut aku senang pada pemuda macammu tak percuma satu tahun aku duduk di sini menunggu kau cocok buat jodoh muridku dewa tuak meneguk tuaknya lagi tapi sambil meneguk matanya melirik pada si pemuda akan tetapi si pemuda tentu saja kagetnya tiada terkira mendengar ucapan dewatuak itu mukanya merah karena jengah rupanya dunia ini terlalu banyak manusia-manusia aneh http ebooksters.blogspot.com page 4
[close]
p. 7
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran pikirnya diteguknya sedikit lagi tuak harum dalam bumbung kemudian bumbung bambu itu diserahkannya kepada pemiliknya kembali dahagaku sudah lepas dewa tuak tuakmu enak sekali aku ucapkan terima kasih dan sekarang aku minta diri untuk meneruskan perjalanan ah orang muda matahari masih belum bergeser angin masih sejuk dan pemandangan indah masih banyak yang belum kau lihat kenapa musti kesusu si pemuda tersenyum kurasa sudah cukup di lain hari jika ada kesempatan aku yang muda ini pasti akan membalas undangan serta suguhan tuakmu yang enak itu dewa tuak letakkan kedua bumbung tuaknya di pungggung ditepuknya bahu pemuda itu kau tak boleh pergi anak muda kau musti ketemu dulu dengan muridku kau berjodoh dengan dia mari kita turun dewa tuak menarik lengan si pemuda dan keduanya loncat turun ke tanah laksana dua ekor burung rajawali tapi sampai di tanah si pemuda segera lepaskan tangannya yang dipegang dengan halus dia menjura hormat lain kali kita bertemu lagi dewa tuak terima kasih atas suguhanmu tapi baru saja si pemuda berlalu beberapa tombak tubuhnya sudah terhenti dan tertarik ke belakang kembali seutas benang sutera halus telah melilit pinggangnya ternyata dewa tuaklah yang empunya benang itu dan menariknya anak muda aku sudah bilang kenapa buru-buru kau belum ketemu dengan muridku mari kalau bukan berhadapan dengan dewa tuak mungkin si pemuda sudah keluarkan semprotan memaki namun saat itu dengan menahan hati berkatalah si pemuda dewa tuak kita baru saja berkenalan hari ini manusia bodoh dan jelek macam aku ini mana pantas dijodohkan dengan seorang murid pendekar besar macam kau masih banyak lain orang yang lebih pantas pemuda itu hendak berlalu lagi tapi benang sutera halus itu masih juga meliliti pinggangnya meneliti sutera halus itu si pemuda bukan tak mampu untuk memutuskannya tapi dia khawatir itu akan membuat dewa tuak tidak bersenang hati sementara itu didengarnya dewa tuak mengeluarkan suara suitan aneh sesosok bayangan ungu muncui di hadapan pemuda itu dan nyatanya adalah seorang gadis berpakaian ungu dan berpita ungu metihat paras gadis ini mau tak mau pemuda rambut gondrong itu tertarik juga orang muda kau lihat sendiri muridku toh tidak jelek bagaimana http ebooksters.blogspot.com page 5
[close]
p. 8
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran paras si pemuda jengah sekali gadis baju ungu lebih lagi ditundukkannya kepalanya sampai dagu dan dadanya hampir menempel muridmu memang cantik dewa tuak kata si pemuda tapi tampangku yang terlalu buruk sehingga tidak cocok sebaiknya cari pemuda yang dia sukai sendiri dewa tuak selamat tinggal habis berkata demikian si pemuda sentil benang sutera yang melilit pinggangnya benang itu putus pemuda geblek dikasih perawan malahan kabur maki dewa tuak dia berseru hai pemuda tunggu dulu kau masih belum terangkan nama orang tua ini keluarkan segulung tali rotan dan dilemparkannya ke arah pinggang pemuda yang tengah larikan diri si pemuda yang tahu dirinya hendak dilibat kembali pukulkan telapak tangan kanannya ke belakang sesiur angin kencang menderu deras menahan lontaran tali rotan terus menyambar ke arah si orang tua dewa tuak terpaksa loncatkan diri ke atas karena maklum angin yang datang menyambar itu bukan angin biasa sambaran angin memberantakkan semak-belukar rendah kemudian menghantam pohon kayu besar krak tak ampun lagi pohon raksasa itu tumbang patah dua dengan suara berisiknya hampir terdengar di seluruh lereng bukit dewa tuak geleng-gelengkan kepalanya sayang sayang katanya sayang aku tak dapatkan itu pemuda ketika dia memasukkan tali rotannya ke balik pakaiannya orang tua ini terkejut pada bagian pohon besar yang masih berdiri di tanah tapi akar-akarnya hampir berserabutan ke luar kelihatan tertera tiga buah angka 212 dewa tuak memandang pada gadis baju ungu disampingnya lalu memandang lagi pada tiga buah angka dibatang pohon dan leletkan lidah kemudian merenung tiga deretan angka itu telah menggemparkan dunia persilatan pada dua puluh tahun yang lalu tiga deretan angka yang berarti maut bagi kaum persilatan itu golongan hitam apakah kini angka 212 itu telah muncui kembali dunia persilatan pasti akan gempar seperti masa dua puluh tahun yang lalu tapi yang menjadi tanda tanya besar di kepala dewa tuak saat itu ialah siapa adanya pemuda gagah tadi apakah dia muridnya eyang sinto gendeng kalau betul berarti munculnya kembali seorang tokoh gagah dengan gelar pendekar kapak maut naga geni 212 dewa tuak palingkan kepala pada anak muridnya http ebooksters.blogspot.com page 6
[close]
p. 9
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran anggini kau telah lihat kehebatan itu pemuda kau musti cari dan kejar dia musti dapat kalau tidak dapat jangan kembali kepertapaan tapi guru tidak ada tapi-tapian anggini kejar pemuda itu kau dengan jalan apa pun musti bisa ambil dia jadi kawan hidupmu karena dia akan menguasai dunia persilatan dalam waktu yang singkat anggini si gadis baju ungu berdiri termanggu tunggu apa lagi tanya gurunya gadis ini tak bisa berkata apa-apa lagi melainkan segera meninggalkan tempat itu ke jurusan lenyapnya si pemuda yang telah menerakan angka 212 pada batang pohon 0o0 dua sang surya sudah lama bergeser ke ufuk barat warnanya yang tadi demikian terik menyilaukan kini memudar merah kekuningan seperti tiada sanggup menahan diinya dirampas oleh kedatangan sore sore yang akan dirampas oleh senja dan senja yang akan bertekuk lutut di pintu malam jalan yang ditempuh pemuda itu semakin sukar berliku dan menanjak di kiri kanan senantiasa mengapit batu karang putih yang tiada berubah dari zaman ke zaman atas kerasnya mendadak dari puncak batu karang di sebelah timur melengking suara suitan aneh yang menusuk sepasang gendang-gendang telinga si pemuda dengan waspada pemuda ini putar kepala dan mendongak ke atas puncak karang itu tingginya sekira dua puluh lima tombak curam dan terjal sukar didaki tapi mata si pemuda yang tajam dapat melihat bekas cungkilan-cungkilan pada sepanjang lereng karang mulai dari bawah sampai ke atas cungkilan-cungkilan itu merupakan tangga penolong meski demikian jangan harap manusia biasa bisa mempergunakannya sekali tergelincir tubuh akan amblas ke bawah ditunggu oleh unggukan batu karang runcing suara suitan aneh itu terdengar lagi lebih keras dan nyaring dari yang pertama dan sesaat mata si pemuda berputar kembali ke puncak batu karang itu dia terkejut http ebooksters.blogspot.com page 7
[close]
p. 10
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran melihat kemunculan seorang tua bermuka brewok yang kaki kanan dan tangan kanannya buntung anggota badan yang buntung ini disambung dengan kayu pada ujung kayu dari lengan menancap sebuah benda berbentuk arit yang bergemerlap ditimpa sinar matahari di ambang sore itu di tangan kirinya ada sebuah tongkat biru dari besi murni karena puncak karang di mana manusia berewok ini berdiri tinggi sekali maka si pemuda tak dapat mengenali dengan jelas potongan muka orang ini apalagi tertutup berewok hanya samar-samar bisa dilihatnya bahwa manusia ini adalah seorang tua yang bertampang angker melihat kepada berewok yang memenuhi mukanya keraslah hati si pemuda bahwa dia sudah dekat ketempat tujuannya mungkin juga sudah sampai dipandang tajam-tajam demikian rupa si muka angker berewok juga memandang pada si pemuda secara tajam menyorot tapi sebegitu jauh tidak buka suara si pemuda yang menjadi tak sabar lambaikan tangan dan menjura hormat sedikit orang tua aku yang muda ini mau tanya apakah ini jalannya ke gua sanggreng orang yang ditanya kerutkan kening bocah gondrong apakah kau yang dijuluki pendekar kapak maut naga geni 212 pemuda yang berada di bawah batu karang terkejut sekali siapakah orang tua berewok bermuka angker ini apakah guru atau kakak seperguruannya bergola wungu yaitu musuh yang telah mengundangnya untuk datang ke gua sanggreng aku merasa tak ada orang yang menjuluk demikian orang tua menyahuti si pemuda yang tak lain dari wiro sableng adanya si muka berewok masih memandang menyorot pada pemuda itu memang adalah tak dapat dipercayanya kalau pemuda ini adalah pendekar kapak maut naga geni 212 karena angka 212 telah menggetarkan dunia persilatan pada dua puluh tahun yang lalu tapi ciri-ciri yang diterangkan muridnya tentang pemuda ini cocok betul akhirnya si berewok bersuit lagi kali ini suara suitannya lain dari dua kali tadi dan sesaat kemudian muncullah sosok tubuh berpakaian hitam orang ini mukanya juga berewok dan wiro dapat mengenalinya sebagai orang yang dulu telah menantangnya yaitu bergola wungu kini dia yakin bahwa si kaki buntung itu punya sangkut-paut erat dengan bergola wungu dari bawah dilihatnya kedua orang itu bercakap-cakap sedang si buntung sekali-kali menunjuk-nunjuk dengan tongkat birunya ke arah wiro tiba-tiba mengumandanglah tawa bergelak dari si kaki buntung daerah sekitar situ seperti dirobek oleh suara tertawanya sambil tertawa diketuk-ketukkannya tongkat di tangan http ebooksters.blogspot.com page 8
[close]
p. 11
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran kirinya ke atas batu karang batu karang itu bergetar dan bagian yang kena ketuk lebur menjadi pasir kemudian kedua mata orang tua buntung itu kembali memandang tajam pada wiro sableng kalau kau bukan pendekar 212 palsu pastilah kau muridnya si sinto gendeng ah kiranya kau tak ubah seperti bocah-bocah ingusan lainnya tak ubah seperti gurumu sendiri bego dan keblinger jaga mulutmu orang tua bentak wiro marah karena gurunya dimaki tapi diamdiam dia juga heran kalau si muka berewok yang satu ini tahu nama gurunya melihat kepada umur mungkin kira-kira dia seumur dengan eyang sinto gendeng berewok buntung itu tertawa lagi tongkatnya diketuk-ketukkannya lagi muridku bergola wungu bicara terlalu hebat tentang kau tapi setelah berhadapan muka nyatanya kau hanya kosong melompong tadinya mendengar kematian tiga muridku aku ingin mengajaknya bertempur sampai seratus jurus hendak kupecahkan kepalanya dengan tongkat biru besi murni ini tapi nyatanya dia adalah seorang bocah pitit masih pantas ngempeng pakai baju pun belum becus pendekar potongan macammu ini sekali aku ayunkan tongkat saja pasti sudah kelojotan panas hati wiro sableng tiada terkirakan darah mudanya menggeru dalam pembuluhnya orang tua serunya bicaramu terlalu sombong apakah kau tahu bahwa semut itu sanggup mengalahkan gajah apakah kau juga tahu bahwa manusia itu bisa terpeleset oleh sebutir batu kecil berlumut si berewok kaki buntung tertawa dingin barangkali kau belum tahu kebalikan ucapanmu itu orang muda tahukah kau bahwa semut itu sekali dipijak oleh gajah akan mejret amblas ke dalam tanah tahukah kau kerikil kecil itu kalau ditendang akan mental jauh tiada daya wiro sableng keluarkan suara mendengus dari hidung kadangkala manusia keliwat pintar jadi bicara terbalik-balik macam kau sahutnya tapi tak apa aku tak ada urusan dengan kau biar aku bicara dengan bergola wungu si orang tua tertawa berkekeh jangan sebut soal tak ada urusan geblek muridku mati tiga orang bukan aku yang bunuh tapi kau turut bertanggung jawab menukas bergola wungu buset kata wiro di depan hidung gurumu kau bisa buka bacot keras bergola aku sudah datang untuk menerima tantanganmu http ebooksters.blogspot.com page 9
[close]
p. 12
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran bergola wungu tertawa mengejek ini bukan gua sanggreng wiro bukan di sini ajalmu harus kau pasrahkan keren betul kau bergola manusia kalau sudah lupa nasib memang persis macam kau kau tahu bahwa kau dulu anak kampung jatiwalu kentut yang sekarang punya sedikit ilmu lantas jadi kepala rampok tapi lantas menantang aku dengan lari kepada gurunya kalau aku jadi kau lebih baik terjun dari atas puncak karang itu ke bawah mampus bunuh diri merah muka bergola wungu sampai ke telinga dan ke kuduk mulutnya terkatup rapat gerahamnya bergemeletakkan namun tak ada suara jawaban dari dia maka berkatalah si berewok tua kaki buntung bocah 212 karena kau bicara begitu congkak tentu kau punya sedikit ilmu yang diandalkan aku yang sudah tua ingin sekali bertukar pengalaman wiro sableng tertawa-tawa kau yang sebenarnya congkak orang tua apakah umurmu yang sudah bangkotan itu masih belum cukup puas untuk melakukan pertempuran tapi kalau kau berkeras hati mau iseng-iseng tukar pengalaman katamu aku yang muda tidak keberatan wiro gosok-gosokkan telapak tangannya satu sama lain tapi aku ingin tahu nama dan siapa kau lebih dahulu si orang tua kembali tertawa macam tadi yang menggetarkan seantero daerah batu karang itu aku adalah penghuni gua sanggreng yang sudah empat puluh tahun malang melintang dalam rimba persilatan kau dengar itu bocah dan kalau kau perlu tahu namaku akulah yang bernama bladra wikuyana angin topan dari barat tentu saja wiro sableng terkejut mendengar nama asli serta nama julukan si berewok kaki buntung itu karena dari gurunya dia mengenai bahwa angin topan dari barat adalah satu tokoh persilatan sakti yang memimpin sebuah perguruan di jawa barat yang namanya cukup tenar tapi dicurigai adalah kaki tangan golongan hitam golongan jahat namun demikian pemuda ini sama sekali tidak unjukkan paras kecut malah dia tertawa bergelak julukanmu hebat juga orang tua tapi setahuku angin itu hanyalah satu benda kosong belaka dan berbau busuk bila ke luar dari pantat bladra wikuyana bersuit marah bocah setan kau berani kurang ajar terhadap angin topan dari barat terima ini wuuuuuutt tongkat birunya disapukan ke bawah http ebooksters.blogspot.com page 10
[close]
p. 13
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran 0o0 tiga angin sedahsyat topan melanda pendekar 212 pemuda ini balas dengan hantaman tangan ke udara mengirimkan putaran lengan yang mengandung serangkum angin puyuh hal yang hebat sekali terjadilah dua pukulan angin yang sama mengeluarkan suara mengaung itu begitu bentrokkan menimbulkan letupan udara yang kerasnya bukan kepalang bukit-bukit dan puncak-puncak karang bergetar semak-belukar dan pohon-pohon rambas ke tanah pukulan angin puyuh wiro sableng telah membuyarkan pukulan angin topan dari tongkat bladra wikuyana namun demikian wiro sableng masih kena juga diterpa kipratan angin pukulan lawan sehingga sesaat tubuhnya menjadi limbung huyung bladra wikuyana terbeliak kaget hantaman tongkat birunya tadi telah mempergunakan hampir sepertiga bagian tenaga dalamnya dia sudah memastikan kalau tidak mampus pastilah sekurang-kurangnya pemuda itu kelojotan muntah darah tapi kepastiannya itu tidak berkenyataan di bawahnya wiro sableng ditihatnya masih berdiri utuh maka berserulah bladra wikuyana orang muda ilmumu cukup bagus untuk diandalkan aku tunggu kau di perguruan gua sanggreng habis berkata begitu manusia ini menarik lengan bergola wungu sekejapan saja guru dan murid itu lenyap dari pemandangan wiro sableng si pemuda garuk kepala tongkat itu hebat sekali katanya dalam hati tapi dia tak menunggu lebih lama segera dia lompatkan diri ke atas puncak karang yang tingginya puluhan tombak itu puncak karang itu ternyata licin sekali kalau saja ilmu meringankan tubuhnya dari kelas rendahan pastilah kakinya akan tergelincir wiro memandang berkeliling mencari jejak ke mana larinya kedua orang tadi matanya yang tajam segera menangkap bayangan bladra wikuyana dan muridnya di balik karang sebelah timur tanpa buang waktu pendekar 212 segera lompat ke karang yang terdekat laksana seekor rajawali demikianlah dia melompat kian kemari sampai akhirnya orang yang dikejamya itu lenyap di sebuah jurang batu karang yang dalam sekali http ebooksters.blogspot.com page 11
[close]
p. 14
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran wiro berdiri di tepi jurang batu itu memandang ke bawah untuk melompat turun tidak mungkin jurang itu dalamnya lebih dari seratus tombak berarti tidak mungkin pula bladra wikuyana dan bergola wungu lenyap turun ke jurang batu itu tapi tiba-tiba wiro melihat sebuah tangga tali yang kuat di tepi jurang sebelah selatan segera dia menuju ke sana dan memeriksa tangga tali itu dia berpikir sebentar kemudian dengan cepat menuruni tangga tali bagian bawah jurang batu itu hampir merupakan pedataran batu yang sedikit sekali tetumbuhannya penuh waspada pendekar 212 segera memeriksa keadaan tiba-tiba menggema suara suitan dari arah utara yang dibalas pula oleh suara suitan dari arah barat wiro segera menuju ke barat sementara itu di atas jurang sesosok tubuh yang sudah sejak lama menguntit wiro sableng hentikan langkahnya dekat tangga tali tak berani terus ikut menuruni tangga tali itu wiro berdiri di balik sebuah batu karang berbentuk pilar sekurang-kurangnya batu karang itu bisa menjadi tameng baginya dari musuh yang menyerang dengan diam-diam dari balik batu berbentuk pilar ini dia memandang ke muka tepat di antara dua batang kayu besar yang sangat rendah maka beberapa puluh tombak di mukanya dilihatnya sebuah gua besar kemudian didengarnya lagi suara suitan kali ini dari sebelah belakangnya suitan ini disambut oleh suitan yang menggema ke luar dari dalam gua pemuda ini menunggu dengan tidak sabar ke mana perginya kedua orang tadi apakah masuk ke dalam gua itu dan apakah gua itu yang bernama gua sanggreng lalu apakah saat itu dia sudah berada di perguruan gua sanggreng tiba-tiba terdengar suara suitan yang lebih hebat dari suitan-suitan tadi dan wiro melihat dari mulut gua ke luar dua lusin manusia semuanya laki-laki ada yang berewokan ada yang tidak dan semuanya mengenakan pakaian hitam dengan ikat pinggang kain putih pada pinggang masing-masing tersisip sebatang tongkat biru yang sama bentuknya dengan milik bladra wikuyana keduapuluh empat orang itu membentuk dua barisan panjang mulai dari mulut gua sampai ke pelataran batu tak lama kemudian muncullah bladra wikuyana diiringi oleh bergola wungu pendekar kapak naga geni 212 tak usah sembunyi di balik pilar keluarlah seru bladra wikuyana pemuda itu segera ke luar dari balik tiang batu karang dan berdiri waspada di ujung pelataran angin topan dari barat sandiwara atau tari-tarian apakah yang akan kau pertunjukkan kepadaku http ebooksters.blogspot.com page 12
[close]
p. 15
wiro sableng pendekar kapak maut naga geni 212 maut bernyanyi di pajajaran bladra wikuyana tertawa hambar dasar manusia tolol ajal sudah di depan mata masih juga mau jadi badut tahukah kau bahwa siapa-siapa yang sudah masuk ke mari berarti tak ada lagi jalan keluar berarti mampus di sini wiro sableng menyengir katanya kalau begitu kalian semua di sini juga samasama ikut mampus dengan aku kembali bladra wikuyana tertawa hambar ditepukkannya kedua tangannya turunkan tangga tali perintahnya dua orang anak murid perguruan gua sanggreng segera melaksanakan tugas itu bladra wikuyana berkemik tangga tali telah diturunkan berarti umurmu semakin singkat tapi ada syarat jika kau kepingin hidup terus apa tanya wiro sableng kepingin tahu berlutut minta ampun di hadapanku dan bergabung denganku wiro sableng tertawa meledak muridmu bergola wungu menantang aku datang kemari untuk bertempur tahutahu kini diajak bergabung disuruh berlutut malah enak betul bikin aturan kalau begitu kau datang ke sini betul-betul untuk antarkan jiwa kata bladra wikuyana pula habis berkata begini dia bertepuk tangan satu kali bereskan dia dengan gebrakan enam tongkat merenggut nyawa bentak bladra wikuyana dengan geram sekali maka enam orang muridnya segera melompat mengurung pendekar 212 dengan tongkat di tangan ketahuilah kata bladra wikuyana pula yang akan kalian hajar itu adalah seorang bocah yang mengaku bergelar pendekar kapak maut naga geni 212 mulai bladra wikuyana bersuit keras keenam muridnya juga bersuit keras dan dengan serentak menyerang wiro sableng enam larik sinar biru mengambang di udara kian ke mari dalam gerakan yang sangat tak menentu mengeluarkan suara bersiuran dan kesemuanya menyerang pendekar bertangan kosong itu wiro lompat ke udara dan berteriak angin topan dari barat kerapa anak muridmu yang tak ada sangkut paut dengan aku kau suruh.maju apa kau tidak punya nyali biadra wikuyana menyahut dengan membentak kalau kau ada urusan dengan salah seorang di sini berarti kau berurusan dengan perguruan gua sanggreng http ebooksters.blogspot.com page 13
[close]